Tapanuli Tengah – Anugrahpost.com. 6 Agustus 2026 Warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Propinsi Sumatera Utara (Sumut), lebih memilih tinggal di tenda pengungsian.
Dikarenakan mereka takut tinggal dirumah sendiri itupun mereka lakukan akibat lamanya pengerjaan tanggul penahan air yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah, rasa trauma yang mendalam akibat bencana banjir yang hampir setiap saat terjadi apabila hujan deras di wilayah tersebut.
Kepada tim Pro Junalis media Siber (PJS) Tapteng,Kamis (6/8/22026), Salah satu warga yang bernama Melinda Tambunan (41), warga Kelurahan Hutanabolon menceritakan keadaan mereka yang hingga saat ini lebih memilih tinggal di tenda pengungsian, yang mana mereka merasa lebih aman dari terjangan banjir yang setiap saat melanda pemukiman warga.
Sejak awal bencana banjir 25 Nopember 2025 yang lalu, seluruh harta benda kami pada saat itu telah hancur, yang tinggal hanya baju dibadan saja, rumah ludes dibawa banjir, sehingga kami tidak memiliki tempat tinggal lagi pak. Tenda yang diberikan oleh pemerintah diatas gunung ini lebih aman, bila hujan deras serta banjir susulan datang.
Maka kami seluruh warga di Kelurahan Hutanabolon ini akan kocar kacir melarikan diri diatas ini dan tinggal ditenda tenda pengungsian seraya menunggu banjir berlalu.”ucapnya.
Dengan air mata dan isak tangis, Melinda kembali menceritakan penderitaan dan traumanya, setiap musim penghujan banyak warga yang menanggis ditambah lagi tanggul penahan Sungai Aek Silaga Laga apabila hujan deras jebol, sehingga perkampungan mereka terbenam.
Dengan mata kepala kami melihat tanggul yang sedang dikerjakan oleh pemerintah berkali kali jebol, sehingga debet air yang deras menghantam seluruh rumah warga, kami lebih baik tinggal di atas gunung ini yang ada tendanya, sebab tanggul yang diperbaiki tersebut bukan menjadi penolong bagi kami, melainkan menambah rasa ketakutan dan trauma yang mendalam, saat jebolnya tanggul tersebut terlihat arus sungai yang begitu deras,”katanya.
Dia juga mengakui, hingga saat ini musim penghujan di wilayah Tapteng, seluruh warga Hutanabolon, lebih memilih bermukim ditenda tenda, bahkan satu tenda akan dihuni oleh warga sebanyak tiga kepala kelurga, meskipun tidak layak untuk ditempati akan tetapi demi keselamatan jiwa mereka terpaksa mereka tempati tenda tersebut.
Apalah daya kami pak, kemana lagi kami tinggal, seluruh harta benda sudah ludes, bahkan kami dapat makan dari bantuan orang lainya yang berbelah kasih dan prihatin melihat kondisi kami saat ini.
Apabila mengharapkan bantuan dari pemerintah tidak cukup dan kami rasa kurang pak sedangkan bantuan yang dijanjikan oleh pemerintah Jaminan Hidup (Jadup) dan bantuan lainnya hingga saat ini masih banyak warga yang belum dapat.”ujarnya.
Meskipun demikian Melinda berharap, agar pengerjaan tanggul secepatnya diselesaikan pembangunannya, sebab bila diburu pengerjaannya kemungkinan besar Sungai Aek Silaga Laga, akan dapat menghalangi air yang menerjang kepemukiman warga Kecamatan Tukka, terkhususnya warga Hutanabolon.
Sebenarnya apabila dipercepat pengerjaan taggul tersebut, dapat membantu warga dari terjangan air, walaupun hujan datang dengan adanya tanggul tersebut maka dapat menahan derasnya air yang datang dari pegunungan.
Oleh sebab itu berkali kali kami serukan kepada pemerintah Tapanuli Tengah terutama kepada bapak presiden Republik Indonesia Prabowo agar tanggul yang sedang diperbaiki secepatnya diburu pengerjaanya, kalau tidak diburu pengerjaannya maka kemungkinan perkampungan warga Hutanabolon dan sekitarnya akan lenyap di hantam banjir.”ujar Melinda.( Jostin Simamora)






