Hingga Saat Ini Kondisi Wilayah Hutanabolon Masih di Landa Banjir, Melinda dan Yenita : Masih Adakah Harapan Kami Untuk Melanjutkan Hidup

Uncategorized43 Dilihat

Tapanuli Tengah- Anugrahpost.com
Masih adakah harapan kami untuk melanjutkan hidup, demikian diucapkan oleh Melinda Tambunan (41) dan Yenita Lumbantoruan (35), warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), propinsi Sumatera Utara (Sumut), Kamis (6/8/2026), saat ditemui Tim Media Pro Jurnalismedia Siber Tapteng di lokasi tenda pengungsian.

Sejak awal terjadinya bencana banjir yang melulu lantakan seluruh permukiman warga di Kecamatan Tukka pada 25 Nopember 2025 yang lalu, hingga saat ini setiap hujan deras turun, bancir selalu menerjang Kelurahan Hutanabolon, Kelurahan Sipange dan Kelurahan Bonalumban.

Lebih parah lagi pembangunan tanggul yang sedang dikerjakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum (PU), selalu jebol saat intensitas hujan turun di wilayah tersebut.

Yenita dengan isap tangis menceritakan kisahnya saat dilanda banjir, untuk bertahan hidup terpaksa mengungsi dirumah kerabat, sebab setiap hujan turun selama satu jam lamanya maka seluruh pemukiman warga di Hutanabolon banjir hingga mencapai ketinggian satu meter tingginya. Sementara suaminya yang sedang sakit hingga saat ini, harus cuci darah terpaksa ikut dilarikannya kelokasi yang aman.

“Saya sering putus asa melihat kondisi ini pak, terkadang dalam benak saya,”Masih adakah harapan bagi kami untuk melanjutkan hidup ini.” Sementara beberapa hari ini hujan terus menerus, tanggul yang di bangun pemerintah di Sungai Aek Silaga Laga jebol, air meluap dengan cepatnya, untuk berlari saja sudah tidak sanggup lagi, karena kecepatan arus air sangat deras dan mempersulit kami untuk menyelamatkan diri.”ucap Yeni.

Masih dilokasi tenda penggungsian, Melinda juga histeris mengatakan bahwa lebih baik tinggal di tenda pengungsian dari pada diperkampungan yang hampir setiap saat dilanda banjir.

“Kami melanjutkan hidup atas bantuan dari orang orang kaya dan sukses, rumah hancur, seluruh perabotan habis terbawa banjir, bila tinggal dilokasi perkampungan selalu dihantui rasa takut, bahkan tertidur dengan nyenyak tidak pernah kami dapatkan sejak adanya musibah banjir yang melanda kami. Saat ini kami hanya berusaha bertahan hidup apa adanya, bagi kami pilhan yang tepat untuk tinggal di tenda pengungsian, karena lokasinya lebih tinggi, apabila arus sungai dan tanggul jebol, kami dapat selamat dari banjir,”ujarnya.

Sebelumnya Mentri PU, Dody Hanggodo mengunjungi lokasi banjir di Hutanabolon pada, Rabu (29/7/2026) yang lalu, saat itu mengakui bahwa penangganan banjir di Kelurahan Sipange, ada kelalaian dari pihaknya. Dia berjanji kepada warga sekitarnya akan melakukan percepatan penanggulangan pengendalian banjir diwilayah Kecamatan Tukka.

Sementara itu Bupati Pemkab Tapteng, Masinton Pasaribu, yang setiap saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Tukka, bahkan setiap musim hujan selalu turun melihat keadaan warga seraya melakukan tindakan penyelamatan kepada warga yang terkena banjir, dan pada saat banjir susulan terjadi pada, Senin (3/8/2026) lalu, Masinton langsung terjun kelokasi banjir. Hal itu dilakukannya guna memastikan penanganan darurat bencana berjalan cepat dan tepat sasaran, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang terdampak.( Simamora)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *